Gangguan Jiwa Remaja Indonesia

17 Juta Remaja Indonesia Memiliki Masalah Mental, Ternyata Ini Penyebabnya

Sebanyak 17 juta remaja di Indonesia rentan usia 10-17 tahun punya kasus kebugaran mental. Hal itu diketahui berdasarkan survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS). Survei merupakan penelitian kerja sama antara Universitas Gadjah Mada (UGM), University of Queensland (UQ) di Australia (lead organisasi NAMHS), Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health (JHSPH) di Amerika Serikat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Adapun periode survei dikerjakan terhadap 2022 lalu dan juga tentang survei permainan di situs slot online server thailand.

6 Gangguan Jiwa Remaja Indonesia

Dalam surveinya, I-NAMHS mengukur prevalensi enam gangguan jiwa terhadap remaja, yakni:

  • Fobia sosial
  • Gangguan ketakutan umum
  • Gangguan depresi mayor
  • Gangguan perilaku
  • Gangguan stres pasca trauma (PTSD)
  • Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD).

I-NAMHS terhitung mengukur risiko dan faktor pelindung yang berkaitan dengan gangguan mental remaja layaknya perundungan, sekolah dan pendidikan, jalinan kawan sebaya dan keluarga, tingkah laku seksual, pemanfaatan narkoba, dan juga pengalaman jaman kecil yang merugikan.

17,95 Juta Remaja Indonesia Menderita Gangguan Mental

Survei lakukan pengumpulan knowledge terhadap 2021 dengan enumerator yang dilatih untuk lakukan wawancara terhadap remaja dan pengasuhnya. Total ada 5.664 pakai remaja dan pengasuhnya yang ikuti I-NAMHS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami kasus kebugaran mental dalam 12 bulan terakhir.

Sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka-angka ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja.

Adapun remaja didiagnosis menderita gangguan mental cocok dengan Diagnostic plus Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5), yang merupakan pedoman penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia dan internasional.

Jenis Gangguan Paling Banyak Diderita Remaja Indonesia

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, M.Sc., Sc.D., menyebut remaja yang punya kasus kebugaran mental ada masalah lakukan lebih dari satu hal.

“Remaja dengan gangguan mental mengalami gangguan atau ada masalah dalam lakukan kesehariannya yang disebabkan oleh gejala gangguan mental yang ia miliki,” katanya dikutip dari laman formal UGM.

Menurutnya, selama ini knowledge yang dimiliki sebelum I-NAMHS tidak mewakili Indonesia atau tidak berdasarkan diagnosis, supaya perencanaan program dan advokasi kebugaran mental remaja tidak pas sasaran.

“I-NAMHS dapat menolong Pemerintah dan pihak lain yang berkaitan dengan kebugaran mental remaja dalam merancang program dan advokasi yang lebih baik bagi generasi muda kita,” jelasnya.

Dia beri tambahan langkah ini jadi terlampau mutlak karena populasi remaja di Indonesia mempunyai manfaat sentral dalam pembangunan Indonesia terhadap jaman depan. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2020, hampir 20% total penduduk Indonesia berusia 10-19 tahun.

Terlebih ke depan, remaja Indonesia akan hadapi beraneka tantangan yang belum pernah berjalan sebelumnya, layaknya pemanasan global, globalisasi, dan tekanan berkaitan tempat sosial. Serangkaian tantangan berikut akan merubah kebugaran mental remaja, sekaligus merubah mutu hidup mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa gangguan mental yang paling banyak diderita remaja Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Gangguan ketakutan (gabungan antara fobia sosial dan gangguan ketakutan umum) sebesar 3,7%
  • Gangguan depresi mayor (1,0%)
  • Gangguan tingkah laku (0,9%)
  • PTSD dan ADHD (keduanya 0,5%)

Dalam hal ini, I-NAMHS mengutarakan bahwa kendati Pemerintah udah tingkatkan akses terhadap beraneka fasilitas kesehatan, hanya sedikit remaja yang melacak pertolongan profesional untuk kasus kebugaran mentalnya.

Hanya 2,6% remaja dengan kasus kebugaran mental yang mengakses fasilitas dalam 12 bulan terakhir.