Hal yang Sepatutnya Kau Tahu Soal UU Kesehatan

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) legal meresmikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan menjadi Undang-Undang.
Pengesahan ini terjadi saat RUU masih menuai banyak protes.
Langsung apa tujuan disahkannya UU ini? Bukankah ini ialah info bagus?
Jakarta, CNBC Indonesia – Upaya pemerintah kita untuk meningkatkan kualitas kesehatan di Tanah Air menjadi kenyataan. Indonesia tampak tak berkeinginan lagi ketinggalan dari negara-negara berpenghasilan menengah atas terkait sektor kesehatan.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) legal meresmikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan menjadi Undang-Undang.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikinmenilai peresmian UU baru ini ibarat memberi manfaat usai bencana.

UU Kesehatan ini bentuk keberhasilan Indonesia melampaui krisis spaceman slot kesehatan terbesar di abad ini sebenarnya ikut serta membuka mata pemerintah bahwa cara kesehatan perlu diperbaiki, salah satunya melalui transformasi kesehatan. Ini sebab masyarakat belum mendapatkan jalan masuk dan layanan kesehatan yang sangat bagus.

Sebagaimana kita ketahui, kecuali sebab Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan ratusan ribu nyawa masyarakat melayang, setidaknya ada sebanyak 300 ribu masyarakat juga sudah meninggal akibat stroke, lebih dari 3 ribu bayi meninggal akibat gangguan jantung , dan 5 juta balita hidup dalam kondisi stunting.

revalensi Balita Stunting Indonesia Berdasarkan Provinsi

Maksud dan tujuan disahkannya UU Ini tentunya untuk kebaikan.Masyarakat Indonesia tentu butuh layanan kesehatan yang lebih bagus. Tentu bukan soal layanan namun juga cara yang mungkin pernah rusak dapat diperbaiki.

Indonesia Darurat Dokter, Ini Kongkretnya!

Wajar saja, sebelum ini kalimat \\\’Indonesia Darurat Dokter\\\’ menjadi info yang kerap kali kali sulit diandalkan seandainya tak mengamati data dan membandingkannya dengan negara lain. Ironisnya, inilah fakta yang ada. Indonesia berada di urutan 139 dari 194 negara.

Ini menampilkan bahwa Indonesia jauh berada di bawah negara lain di manamasalah kurangnya jumlah dokter secara khusus dokter ahli dan sub-ahli, dan juga pemeratannya, belum bergeming untuk beranjak membaik.